Senin, 08 Agustus 2016

waiting..


Waiting…
          Menunggu. Mungkin sebagian orang paling tidak suka menunggu, memang menunggu itu membosankan. Karena kita diam sendiri,duduk kadang berdiri, tanpa kita tahu apakah kita akan berbuah hasil dengan menunggu ini, atau tidak. Karena kalau berbuah hasil otomatis kita tidak perlu menunggu lagi.
            Hanya orang-orang tertentu yang mampu menunggu selama ini. Kita sudah terlalu lama seperti ini. Kalau kata orang, kita terlalu munafik kalau hanya dibilang berteman, dan terlalu bohong kalau dibilang pacaran. Entah ada perasaan seperti apa dihatimu, dan pikiran apa diotakmu. Sehinggu sulit sekali mengungkapkan.       
Apakah sesulit itukah mengungkapkan? Sesulit inikah? Sampai kapanpun waktu tidak akan ada yang pas. Akan menunggu waktu sampai kapan? Sampai dunia ini hancur? Menunggu ga semudah mengucapkannya. Beranilah untuk mengungkapkan dan hadapi kedepannya. Sepahit apapun itu jika bersama akan terasa mudah. Percayalah.
Aku akan menunggu lebih lama lagi untuk kepastian ini, karena mungkin hati ini sudah siap dengan setiap keadaan yang akan dihadapi nantinya. Aku kuat, aku ga akan mudah menyerah untuk terus menunggu, aku suka menunggu. Sukaaaa sekali, karena kamu orang yang aku tunggu. Kalau orang lain, entahlah. Apa akan aku tunggu atau menyerah.
Sampai saat ini aku maasih semangat untuk menunggu. Menunggu kepastian yang aku sendiri tidak tau apakah akan berbuah manis, atau pahit. akan tetapi, aku masih sama seperti orang orang lain diluar sana, aku masih normal. Aku pasti akan merasa bosan,lelah,dan pada akhirnya suatu hari nanti yang entah kapankah itu, aku akan merasa lelah untuk menunggu. tapi aku berharap semoga aku tidak akan pernah lelah untuk menunggu.



By.RR

1 komentar:

  1. Assalamualaikum, Ri. ^^ kenal saya dong, ya? Tadi saya 'temu' sama alamat blog kamu di beranda fb. Terus saya iseng-iseng buka dan baca work kamu di sini.
    Bagus. Saya salut sama kamu yang rela menunggu tanpa tahu apakah yang kamu tunggu itu pasti datang atau tidak. Saya salut, kamu bisa menunggu kepastian itu. Kalau saya, sih, bisa saja, tapi tanpa melakukan hal lain selama masa menunggu itu, dijamin, mending saya mundur atau pergi.
    Kata Bang Tere, kalau kita menunggu sesuatu, lebih baik sambil melakukan hal baik, agar ketika ujung dari 'menunggu' itu pahit, setidaknya masa-masa menghabiskan waktu untuk menungu itu tidak sia-sia.
    Terlepas dari ini cuma kegalauan kamu atau cuma angan-angan, saya masih salut, kok.
    Oh, ya. Jauh dari kesalutan saya, penggunaan EBI alias Ejaan Bahasa Indonesia kamu masih acak-acakkan.
    Saya juga masih belajar, makanya, kita belajar bersama, yuk?
    Pertama, penggunaan di, ke, dari untuk kata depan, dipisah. Misal, di hati, di rumah, di sini, ke sana, ke Bandung, dari sana, dari rumah.
    Sedangkan penggunaan di untuk awalan kata tentu saja disambung. Misal, disambung, dipisah, ditunggu.
    Kedua, penggunaan tanda baca. Setelah tanda baca koma maupun titik, tolong diberi spasi.
    Ketiga, sudah, cuma dua.
    Kalau ada yang salah, mohon maafkan. Saya juga masih harus, kudu, wajib, belajar terus. :)
    Tabik,
    Ielaiblue.

    BalasHapus